refleksi

Tentang Melihat Ke Atas

Suatu sore di Bulan November. Saya dan tiga orang teman saya sedang terkantuk-kantuk di meja poli BM RSHS. Entah bagaimana awalnya, untuk mengusir kebosanan sambil menunggu shifting jam 6 sore, kami mulai menulis di kertas dan membubuhkan tanda tangan di kertas tersebut. Salah seorang teman kami memang sedang mempelajari grafologi, dan kami tertarik untuk melihat bagaimana dia menggunakan ilmunya untuk “menebak” karakter kami lewat tulisan tangan. Saya pun ikut berpartisipasi karena memang penasaran bagaimana tulisan saya dapat mengungkap karakter saya.

Singkat cerita, tibalah giliran saya. Teman saya si “pembaca tulisan” itu pun mengungkap kalau saya memiliki lebih banyak sisi introvert dibandingkan ekstrovert, karena saya lebih suka menceritakan masalah pribadi hanya pada orang yang saya anggap dekat…. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Tapi ada satu hasil “bacaan”-nya yang membuat saya tertegun. Teman saya itu berkata kalau saya “terlalu banyak melihat ke atas dan lupa untuk melihat ke bawah, sehingga sering merasa tertekan”. Saya pun berkata bahwa hasil “bacaan”-nya sungguh sesuai dengan apa yang saya alami pada hari itu (dan hari-hari ke belakang). Saya akui, saya memang terlalu mudah down ketika saya merasa lebih tertinggal dibandingkan orang lain (khususnya masalah requirement koas, sih). Beberapa hari belakangan memang baru saja melihat kakak tingkat yang akhirnya berhasil sumpah dokter gigi, lalu lihat teman-teman ada yang sudah mengerjakan kasus endo, buka IG story isinya teman lagi posting hasil kerja tambalnya, dan seterusnya. Dan hal-hal tersebut pun berhasil membuat saya gelisah (saya sering begini memang, nanti bisa menangis sendiri gara-gara hal-hal seperti ini. Saya takut kalau saya lulusnya lama. Saya takut kalau saya terlambat. Saya takut saya harus menghabiskan beberapa semester lagi dan harus bayar uang semesteran sekian juta lagi untuk terus koas. Dan segudang ketakutan lainnya, yang sering kali membuat semangat saya jatuh.

Saya akhirnya sadar, saya begini karena saya terlalu banyak melihat ke atas. Saya terlalu silau dengan pencapaian orang-orang, sampai-sampai saya lupa untuk melihat ke depan dan merasa “kesakitan” karenanya. Saya lupa untuk melihat jalan saya sendiri. Melihat apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Menapaki jalan menuju “tangga” berupa kelulusan dan gelar “drg.” yang senior-senior saya berhasil raih. Saya lupa untuk “melihat ke bawah”, melihat bahwa ada orang-orang yang mungkin juga kesulitan untuk mencapai posisi saya. Saya lupa kalau saya harus bersyukur masih diberikan kesanggupan untuk terus menjalani koas, sampai hari ini.

Saya pun berkesimpulan, melihat ke atas memang perlu untuk memotivasi diri, tapi jangan lupa untuk melihat ke bawah supaya selalu bersyukur. Dan yang terpenting: fokuslah pada apa yang ada di depan.

Sore itu (meskipun ketika tulisan ini dibuat saya masih merasa down), saya merasa menemukan motivasi kembali untuk terus berjuang menyelesaikan koas ini. Meskipun berat rasanya karena seperti labirin yang enggak kelar-kelar…………..

Advertisements
refleksi

A Friendly Reminder.

Kamu,

Dan orang-orang hebat yang kamu kagumi, orang-orang yang katamu ambis, orang-orang yang selalu terlihat produktif dan berprestasi,

Punya  porsi 24 jam yang sama per harinya.

Lantas,

Masihkah kamu akan terus mengeluh,

“Waktuku tidak cukup?”

 

-Edisi ingin “menampar” diri sendiri-

Tak Berkategori

Mau di Mana Saja, yang Penting Lebaran

Selamat hari raya Idulfitri semuanya! It’s the 2nd most awaited time of the year again! Idulfitri, momen yang dianggap bagai sebuah ‘penghargaan’ setelah sebulan penuh melaksanakan puasa Ramadhan. Momen yang mendekatkan yang jauh meskipun hanya sebentar; kumpul keluarga.

Biasanya, menjelang Idulfitri, arus perpindahan masyarakat menuju berbagai kota di Indonesia akan semakin deras. Bandara, pelabuhan, stasiun, terminal, semuanya sesak oleh orang-orang yang hilir mudik menuju tempat tujuannya masing-masing; rumah.

Begitupun saya. Sejak merantau ke Bandung tahun 2013, biasanya tiket pesawat tujuan Batam dari orang tua sudah nangkring di kotak masuk e-mail saya H-2 atau H-3 menjelang Idulfitri. Lalu, saya akan mulai kasak-kusuk merapikan kamas kos, mengemas baju dan segala printilan lainnya ke dalam koper Hush Puppies kesayangan saya. H-1 keberangkatan semuanya sudah harus siap dan saya harus tidur lebih awal agar tidak terjebak macet ke bandara.

Namun, lebaran tahun ini berbeda. Tidak ada notifikasi e-mail masuk dengan subjek tiket pesawat tujuan Batam dari orang tua saya. Teman-teman saya yang biasanya tahu kalo saya pasti pulang saat lebaran pun bingung ketika jawaban atas pertanyaan:

“Rima lebaran pulang nggak?”

Saya jawab dengan:

“Nggak, hehe. Aku lebaran di sini (Bandung).”

Semuanya mengira saya tidak pulang karena satu dan lain hal, sehingga terbitlah rasa iba mereka (cia~). Padahal…. Saya tidak pulang semata-mata karena berlebaran di rantauan, untuk pertama kalinya.

Dari H-sekian lebaran, orang tua saya dan kakek nenek serta sanak saudara dari pihak Mama semua berkumpul di rumah di Bandung. Bersama-sama kami membersihkan rumah dan menyiapkan keperluan di hari raya. Bersama-sama memasak hidangan yang biasa dimasak setiap hari raya (gulai tauco, ketupat, salada timun, rendang, etc etc), tak lupa menyusun kue-kue di toples bening. Lalu, saat hari H Idulfitri, kami semua melaksanakan sholat Id di mesjid dekat rumah (+ saya yang hanya duduk di kursi penonton, hiks). Setelah sholat Id, kami semua pun menyantap hidangan bersama di rumah.

Benar-benar tidak ada yang berubah rutinitasnya. Hanya orang-orangnya yang berbeda. Biasanya, kami berlebaran hanya berempat di Batam, bersama keluarga dari pihak Papa yang memang tinggal di Batam. Sekarang, bersama keluarga dari pihak Mama yang kebanyakan memang tinggal di Bandung.

Tahun ini, tempat lebarannya memang berubah. Namun, ada satu halyang tidak berubah dan selalu menjadi sesuatu yang harus saya syukuri; kehangatan rumah.

refleksi

When Your Plans Didn’t Work….

Minggu ini adalah minggu terakhir jadwal kerja pasien di RSGM sebelum akhirnya cuti bersama menjelang lebaran. Kesibukan pun mulai terlihat surut; ada yang sudah menurun semangatnya karena ingin segera pulang, atau ada yang memang sudah berada di kampung halaman. Ada juga yang masih bertahan di RSGM, mencoba mengejar barang 1 atau 2 step requirement yang bisa dikerjakan. Seperti saya. Simply, karena lebaran tahun ini saya tidak pulang kampung, hehe.

Saya pun mencoba mengerjakan requirement yang bisa dikerjakan sembari menunggu waktu RSGM resmi ditutup karena libur lebaran. Misalnya, insersi GTSL; mencobakan gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) yang sudah selesai dibuat di lab teknik ke pasien.

Pekerjaan GTSL ini sudah saya mulai sejak kurang lebih 4 bulan yang lalu. Saya ikuti alurnya, mulai dari mencetak, membuat lilin, dan sebagainya. Namun, nggak pernah menyangka kalau ternyata pekerjaan ini cukup menguras batin. Haha.

Dua hari yang lalu, saya sudah berencana untuk insersi sejak minggu lalu, namun karena jadwal saya yang sulit disesuaikan dengan pasien dan gigi tiruannya sempat gagal sehingga harus diperbaiki dulu, akhirnya pasien baru bisa datang hari ini. Batin dan mental pun sudah saya siapkan, pun dengan sederet teori jika dosennya bertanya.

Ketika akhirnya memperlihatkan pada dosen, dosen pun meminta saya memperbaiki bagian GTSL tersebut dahulu karena belum baik dan benar kontak giginya akibat terhalang kawat. Baiklah. Saya pun kemudian mencoba memperbaiki GTSL tersebut sesuai arahan dosen. Memotong kawat yang menghalangi kontak, mencoba ke pasien, belum pas, ya diperbaiki lagi. Begitu seterusnya.

Sampai akhirnya di tengah riweuh-nya memperbaiki, tangan saya tidak sengaja memegang tang potong dengan posisi yang tidak benar. Niatnya hanya memotong kawat berakhir dengan ikut terpotongnya bagian penyangga gigi. Saya tercenung. Well, hidup (di dunia koas gigi) memang kadang (sering, malah) selucu itu. Hehe :”)

Panik. Saya bergegas turun meminta pertolongan pada bapak-bapak penjaga lab. Minta tolong dipasangkan lem kuat pada bagian yang patah tersebut lalu disambungkan kembali. Segera saya mencobakannya kembali pada pasien saya. Namun, pasien saya malah merasa semakin terganjal oleh gigi tiruannya. Ketika saya lihat kembali…. Ternyata sambungan patahan tersebut terpasang dengan tidak tepat sehingga mengganjal. Waktu pun telah menunjukkan pukul 14.30, yang artinya waktu bekerja sudah habis. Akhirnya, tidak ada acc hari ini.

Hebatnya, saya yang sifatnya cengeng ini sama sekali tidak menangis. Dari awal, saya memang sudah pasrah, apapun ketentuan-Nya. Mungkin memang tidak jalannya acc hari ini. Walaupun sempat terpikir, andai bisa lebih gercep mengerjakan ini sejak awal, andai saja bisa lebih hati-hati, andai ini, andai itu… Ah. Saya tidak boleh begitu. Aku pun teringat, beberapa waktu yang lalu menemukan hadits ini di linimasa:

“…Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, “Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu”. Tetapi katakanlah, “Qadarullah wa ma sya-a fa’al” (hal ini telah ditakdirkan Allah dan Allah berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya). Karena ucapan “seandainya” akan membuka pintu perbuatan syaitan.”[HR. Muslim].

Mungkin, aku saja yang masih kurang bersabar.

Mungkin, aku saja yang masih kurang ikhlas.

Padahal mungkin, ada suatu keburukan yang dijauhkan Allah dari tidak acc-nya pekerjaanku saat itu.

thoughts

Mulutmu (Jempolmu), Harimaumu.

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah kehebohan di media sosial. Perkara “perseteruan” dua (atau tiga?) so-called influencers di media sosial Instagram. Singkatnya, pokok masalahnya adalah karena influencer A yang masih emosi akibat musibah yang menimpanya sehingga menganggap influencer B yang meminta klarifikasi sebagai orang yang rese karena nggak bisa melihat situasi, sehingga keluarlah kata-kata kasar. Sedangkan, influencer B sebagai pihak yang dimanfaatkan identitasnya oleh oknum yang menimbulkan musibah bagi influencer A minta tolong untuk dibuatkan klarifikasi dalam rangka membersihkan namanya. Akibat perseteruan itu, pecahlah nitijen-nitijen menjadi dua kubu. Satu kubu membela influencer A karena musibah yang dialaminya menimbulkan suatu gejolak emosi dan kata-kata kasar yang dia keluarkan dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Satu kubu lainnya membela influencer B karena kesabarannya dalam menanggapi influencer A.

Saya yang dari awal sudah mengikuti kasus ini, akhirnya menarik kesimpulan: bahwa gejolak emosi yang terjadi akibat musibah (keadaan) yang menimpa kita nggak bisa serta merta dijadikan alasan untuk dengan mudahnya dan dalam keadaan sadar melontarkan perkataan yang menyakitkan hati orang lain, apalagi untuk dimaklumi. Mulutmu (jempolmu) harimaumu.

Saya jadi ingat, dulu saya pernah uring-uringan dan kesal sekali ketika ditelepon ibu saya, sehingga saya menjawab teleponnya dengan nada yang seperti menantang. Ketika ibu saya bertanya mengapa nada suara saya seperti menantang saat itu, saya berkata, “Lagi PMS, Ma. Bawaannya pengin marah-marah aja”.

Ibu saya menjawab, “PMS nggak bisa dijadiin alasan buat jadi kasar sama orang lain. Masa hal seperti itu aja nggak bisa dikendalikan? Kita manusia, punya akal. Seharusnya kita bisa memanajemen emosi mau gimanapun bete-nya kita. Harus profesional. Masalah kayak gitu jangan sampe bikin orang lain jadi kena getahnya.”

Ibu saya benar. Kemarahan yang kita alami janganlah sampai merugikan orang lain. Dampaknya nggak kecil. Belum tentu kata-kata yang terlontar akibat kemarahan kita bisa dengan mudahnya termaafkan oleh orang yang kita sakiti, bisa jadi ia menyimpan dendam dan menjadi bumerang nantinya. Memangnya mau, hidup dihantui dendam dari orang lain? Memangnya mau, hidup dihantui rasa bersalah akibat melontarkan kata-kata yang tidak terbalas dengan maaf dari orang yang kita sakiti?

It is okay to be angry, but it is not okay to be cruel.

See the difference?

refleksi

Dimulai, Yuk? (An Introductory x Self-Reflection)

Pernah tidak, kalian merasa kalau hidup begitu-begitu saja alurnya? Semacam ga ada warna dan bumbunya? Atau merasa kalau masih jalan di tempat padahal sudah banyak yang dikerjakan sampai hari ini?

Sering, aku merasa hidup sudah baik-baik saja. Dengan segala fasilitas dan kemudahan situasi yang ada, juga dengan kondisi yang tidak sempit. Merasa hidup sudah normal, dengan kesibukan yang sama hampir setiap harinya. Tergoda untuk terus bergerak hanya di track yang itu-itu saja. Padahal di luar sana, dunia terus berkembang dengan segala aspeknya yang rumit.

Usiaku sudah 23 tahun. Dulu, waktu masih 17 tahun++, kadang rasanya iri lihat orang berusia 20an, udah kelihatan dewasa banget dan banyak banget hal dan pencapaian yang udah dia lakukan. While aku sendiri yang menginjak usia 20-an……….. *sigh*

No, bukannya aku tidak menghargai pencapaian-pencapaianku selama ini, bukannya aku tidak mensyukuri kesibukanku di RSGM sekarang. Tapi, hanya merasa terkadang sedikit “tertinggal” dan “kosong”. Entah kenapa, hidup terasa datar-datar saja.

Mungkin ada satu yang terlewatkan: kesempatan. Apapun itu. Yang mungkin bisa membantu buat mengembangkan diri, buat memperluas wawasan, buat menambah skill baru. Padahal, terkadang kesempatan itu sudah di depan mata, tapi kitanya yang terkadang terlalu takut bahkan malas untuk memulai.

Baru tadi siang, aku mengeluh pada tanteku karena merasa bosan tidak melakukan apa-apa saat long weekend ini (anaknya memang mudah mengeluh, terkadang). Lalu, mengalirlah “kultum” dari tanteku, bahwa ada hal yang sebenarnya bisa dilakukan kalau lagi bosan begini: menulis. Bahwa menulis tidak melulu tentang menulis tulisan yang serius (ada saatnya memang), menulis bisa dimulai dari hal-hal apapun yang sekiranya menarik. Bahwa menulis itu perlu kalau mau apply beasiswa (hmm, ternyata memang perlu).

Seketika saya pun ingat, kalau di awal tahun ini pernah membuat akun di WordPress dengan harapan bisa mulai mengisinya dengan tulisan-tulisan yang mungkin tidak seberapa. At least, I’ve tried, no? Namun, sampai hampir mendekati tengah tahun pun, isinya masih kosong seperti………. apa ya? Hahaha. *menangis di pojokan*

Ketika mulai membuat akun di WordPress ini, saya ingat motivasinya adalah ingin seperti kedua teman baik saya semasa SMA, sebut saja Quraeni  dan Fadel (mohon pencerahannya guru-guru), yang tulisan-tulisan di blog-nya menarik, jadi saya suka baca-baca kalau lagi kosong *waves hand*. Saat itu, saya pun termotivasi untuk melakukan hal yang sama setelah ngobrol dengan mereka tentang keinginan saya. Akhirnya, dibuatlah akun ini.

Setelah berbulan-bulan lamanya, didorong oleh “kultum” tante saya tadi, akhirnya saya masuk kembali ke akun WordPress saya ini yang sudah berdebu. Dan, ya, menulis blog adalah salah satu dari resolusi saya di 2018 ini. Semoga bisa terus berlanjut sampai kapanpun. So, here I am, mencoba dan memulai sesuatu yang baru.

P.S.: Judulnya sih introductory, tapi isinya seperti ceramah Ramadhan. Hiks.